bagaimana pandngan islam tentang "PACARAN" yang menimbulkan "ZINA"
Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi saw. Sabdanya : “Nasib anak
Adam mengenai zina telah ditetapkan. Tidak mustahil dia pernah
melakukannya. Dua mata, zinanya memandang. Dua telinga, zinanya mendengar. Lidah, zinanya berkata. Tangan zinanya memegang. Kaki, zinanya melangkah. Hati, zinanya ingin dan rindu, sedangkan faraj (kemaluan) hanya mengikuti dan tidak mengikuti.” (Hadis Shahih Muslim No. 2282)
Jika kita melihat dari Hadis Shahih Muslim tersebut, sudah jelas-jelas bahwa Pacaran itu termasuk Zina!
Zina Mata = Memandang
Zina Telinga = Mendengar
Zina Lidah = Berkata
Zina Tangan = Memegang
Zina Kaki = Melangkah
Zina Hati = Ingin dan Rindu
Memang ini semua masuk dalam kategori Zina kecil. Tapi ini semua
menjadi pintu untuk melakukan Zina besar (ML/Making Love), seperti
dijelaskan pada akhir hadis yang berbunyi “…sedangkan faraj (kemaluan) hanya mengikuti dan tidak mengikuti.”
Kenapa? Karena tidaklah mungkin orang akan berzina besar, jika zina
kecil ini tidak dilakukan terlebih dahulu. Dan bisa kita saksikan
sendiri, sudah banyak poling yang menyatakan bahwa lebih dari 50% remaja
yang yang pacaran sudah pernah melakukan ML. Jadi meskipun zina kecil,
hal ini juga tetap haram hukumnya.
Hukum Zina
Al-Imam Ahmad berkata: “Aku tidak mengetahui sebuah dosa -setelah dosa membunuh jiwa- yang lebih besar dari dosa zina.”
Dan Allah menegaskan pengharamannya dalam firmanNya:
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain beserta Allah dan tidak
membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali? dengan
(alasan) yang? benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan
demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan
dilipat gandakan adzab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal
dalam adzab itu, dalam keadaan terhina kecuali orang-orang yang
bertaubat …” (Al-Furqan: 68-70).
Dalam ayat tersebut, Allah menggandengkan zina dengan syirik dan
membunuh jiwa, dan vonis hukumannya adalah kekal dalam adzab berat yang
berlipat ganda, selama pelakunya tidak menetralisir hal tersebut dengan
cara bertaubat, beriman dan beramal shalih.
SOLUSI!
Jadi kunci pertamanya adalah menjaga pandangan, menjaga lisan,
menjaga langkah, serta menjaga pikiran. Namun, jika anda tidak berhasil,
maka solusi satu-satunya adalah menikah.
Pacaran, sebagian menganggap ini adalah hal wajar untuk mengenal lebih
dekat sebelum melangsungkan pernikahan. Pacaran bukanlah jaminan
langgengnya suatu hubungan berumah tangga. Contoh nyatanya bisa anda
lihat pada pasangan-pasangan selebriti kita. Banyak sekali dari mereka
yang cerai, walaupun sebelum menikah mereka berpacaran dahulu dalam
waktu yang cukup lama. Maka, solusi yang benar adalah ta´aruf.
Jumat, 09 Oktober 2015
PACARAN Menurut ISLAM
Gimana sich sebenernya pacaran itu, enak ngga' ya? Bahaya ngga'
ya ? Apa bener pacaran itu harus kita lakukan kalo mo nyari pasangan hidup kita
? Apa memang bener ada pacaran yang Islami itu, dan bagaimana kita menyikapi hal
itu?
Memiliki rasa cinta adalah fitrah
Ketika hati udah terkena panah asmara, terjangkit virus cinta,
akibatnya...... dahsyat man...... yang diinget cuma si dia, pengen selalu
berdua, akan makan inget si dia, waktu tidur mimpi si dia. Bahkan orang yang
lagi fall in love itu rela ngorbanin apa aja demi cinta, rela ngelakuin apa aja
demi cinta, semua dilakukan agar si dia tambah cinta. Sampe' akhirnya.......
pacaran yuk. Cinta pun tambah terpupuk, hati penuh dengan bunga. Yang gawat
lagi, karena pengen bukti'in cinta, bisa buat perut buncit (hamil). Karena cinta
diputusin bisa minum baygon. Karena cinta ditolak .... dukun pun ikut
bertindak.
Sebenarnya manusia secara fitrah diberi potensi kehidupan yang
sama, dimana potensi itu yang kemudian selalu mendorong manusia melakukan
kegiatan dan menuntut pemuasan. Potensi ini sendiri bisa kita kenal dalam dua
bentuk. Pertama, yang menuntut adanya pemenuhan yang sifatnya pasti, kalo ngga'
terpenuhi manusia bakalan binasa. Inilah yang disebut kebutuhan jasmani
(haajatul 'udwiyah), seperti kebutuhan makan, minum, tidur, bernafas, buang
hajat de el el. Kedua, yang menuntut adanya pemenuhan aja, tapi kalo' kagak
terpenuhi manusia ngga' bakalan mati, cuman bakal gelisah (ngga' tenang) sampe'
terpenuhinya tuntutan tersebut, yang disebut naluri atau keinginan (gharizah).
Kemudian naluri ini di bagi menjadi 3 macam yang penting yaitu
:
Gharizatul baqa' (naluri untuk mempertahankan diri) misalnya rasa takut, cinta harta, cinta pada kedudukan, pengen diakui, de el el.
Gharizatut tadayyun (naluri untuk mensucikan sesuatu/ naluri beragama) yaitu kecenderungan manusia untuk melakukan penyembahan/ beragama kepada sesuatu yang layak untuk disembah.
Gharizatun nau' (naluri untuk mengembangkan dan melestarikan jenisnya) manivestasinya bisa berupa rasa sayang kita kepada ibu, temen, sodara, kebutuhan untuk disayangi dan menyayangi kepada lawan jenis.
Gharizatul baqa' (naluri untuk mempertahankan diri) misalnya rasa takut, cinta harta, cinta pada kedudukan, pengen diakui, de el el.
Gharizatut tadayyun (naluri untuk mensucikan sesuatu/ naluri beragama) yaitu kecenderungan manusia untuk melakukan penyembahan/ beragama kepada sesuatu yang layak untuk disembah.
Gharizatun nau' (naluri untuk mengembangkan dan melestarikan jenisnya) manivestasinya bisa berupa rasa sayang kita kepada ibu, temen, sodara, kebutuhan untuk disayangi dan menyayangi kepada lawan jenis.
Pacaran dalam perspektif islam
In fact, pacaran merupakan wadah antara dua insan yang
kasmaran, dimana sering cubit-cubitan, pandang-pandangan, pegang-pegangan,
raba-rabaan sampai pergaulan ilegal (seks). Islam sudah jelas menyatakan:
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan
yang keji dan suatu jalan yang buruk." (Q. S. Al Isra' : 32)
Seringkali sewaktu lagi pacaran banyak aktivitas laen yang
hukumnya wajib maupun sunnah jadi terlupakan. Sampe-sampe sewaktu sholat sempat
teringat si do'i. Pokoknya aktivitas pacaran itu dekat banget dengan zina.
So....kesimpulannya PACARAN ITU HARAM HUKUMNYA, and kagak ada legitimasi
Islam buatnya, adapun beribu atau berjuta alasan tetep aja pacaran itu
haram.
Rabu, 04 Maret 2015
Selasa, 24 Februari 2015
Teknik Pembuatan Simplisia dan Sedian Obat
Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya.
Ekstraksi merupakan proses pemisahan suatu bahan dari campurannya, ekstraksi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Ekstraksi menggunakan pelarut didasarkan pada kelarutan komponen terhadap komponen lain dalam campuran (Suyitno, 1989).
Ekstraksi padat cair atau leaching adalah transfer difusi komponen terlarut dari padatan inert ke dalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik karena komponen terlarut kemudian dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa mengalami perubahan kimiawi. Ekstraksi
dari bahan padat dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan dapat larut dalam solven pengekstraksi. Ekstraksi berkelanjutan diperlukan apabila padatan hanya sedikit larut dalam pelarut. Namun sering juga digunakan pada padatan yang larut karena efektivitasnya. [Lucas, Howard J, David Pressman. Principles and Practice In Organic Chemistry]
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju ekstraksi adalah :
· Tipe persiapan sample
· Waktu ekstraksi
· Kuantitas pelarut
· Suhu pelarut
· Tipe pelarut
Ekstraksi bahan makanan biasa dilakukan untuk mengambil senyawa pembentuk rasa bahan tersebut. Misalnya senyawa yang menimbulkan bau dan/atau rasa tertentu. Secara umum, terdapat empat situasi dalam menentukan tujuan ekstraksi :
Senyawa kimia telah diketahui identitasnya untuk diekstraksi dari organisme. Dalam kasus ini, prosedur yang telah dipublikasikan dapat diikuti dan dibuat modifikasi yang sesuai untuk mengembangkan
proses atau menyesuaikan dengan kebutuhan pemakai. Bahan diperiksa untuk menemukan kelompok senyawa kimia tertentu, misalnya alkaloid, flavanoid atau saponin, meskipun struktur kimia sebetulnya dari senyawa ini bahkan keberadaannya belum diketahui. Dalam situasi seperti ini, metode umum yang dapat digunakan untuk senyawa kimia yang diminati dapat diperoleh dari pustaka. Hal ini diikuti dengan uji kimia atau kromatografik yang sesuai untuk kelompok senyawa kimia tertentu. Organisme (tanaman atau hewan) digunakan dalam pengobatan tradisional, dan biasanya dibuat dengan cara, misalnya Tradisional Chinese medicine (TCM) seringkali membutuhkan herba yang dididihkan dalam air dan dekok dalam air untuk diberikan sebagai obat.
Proses ini harus ditiru sedekat mungkin jika ekstrak akan melalui kajian ilmiah biologi atau kimia lebih lanjut, khususnya jika tujuannya untuk memvalidasi penggunaan obat tradisional.
Sifat senyawa yang akan diisolasi belum ditentukan sebelumnya dengan cara apapun. Situasi ini (utamanya dalam program skrining) dapat timbul jika tujuannya adalah untuk menguji organisme, baik yang
dipilih secara acak atau didasarkan pada penggunaan tradisional untuk mengetahui adanya senyawa dengan aktivitas biologi khusus. Proses pengekstraksian komponen kimia dalam sel tanaman yaitu pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dalam pelarut organik di luar sel, maka larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan proses ini akan berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi cairan zat aktif di dalam dan di luar sel.
Prinsip ekstraksi :
Prinsip Maserasi
Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama tiga hari pada temperatur kamar terlindung dari cahaya, cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di luar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah (proses difusi). Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel. Selama proses maserasi dilakukan pengadukan dan penggantian cairan penyari setiap hari. Endapan yang diperoleh dipisahkan dan filtratnya dipekatkan. Maserasi merupakan cara penyarian sederhana yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya. Metode maserasi digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung komonen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, tiraks dan lilin. Keuntungan dari metode ini adalah peralatannya sederhana. Sedang kerugiannya antara lain waktu yang diperlukan untuk mengekstraksi sampel cukup lama, cairan penyari yang digunakan lebih banyak, tidak dapat digunakan untuk bahan-bahan yang mempunyai tekstur keras seperti benzoin, tiraks, dan lilin. Metode maserasi dapat dilakukan dengan modifikasi, seperti modifikasi maserasi melingkar, modifikasi maserasi digesti, modifikasi maserasi melingkar bertingkat, modifikasi remaserasi, modifikasi dengan mesin pengaduk, dan metode Soxhletasi.
Keuntungan metode ini adalah :
- Dapat digunakan untuk sampel dengan tekstur yang lunak dan tidak tahan terhadap pemanasan secara langsung.
- Digunakan pelarut yang lebih sedikit.
- Pemanasannya dapat diatur.
- Karena pelarut didaur ulang, ekstrak yang terkumpul pada wadah di sebelah bawah terus-menerus dipanaskan sehingga dapat menyebabkan reaksi peruraian oleh panas.
- Jumlah total senyawa-senyawa yang diekstraksi akan melampaui kelarutannya dalam pelarut tertentu sehingga dapat mengendap dalam wadah dan membutuhkan volume pelarut yang lebih banyak untuk melarutkannya.
- Bila dilakukan dalam skala besar, mungkin tidak cocok untuk menggunakan pelarut dengan titik didih yang terlalu tinggi, seperti metanol atau air, karena seluruh alat yang berada di bawah komdensor perlu berada pada temperatur ini untuk pergerakan uap pelarut yang efektif.
Prinsip Perkolasi
Metode ini terbatas pada ekstraksi dengan pelarut murni atau campuran azeotropik dan tidak dapat digunakan untuk ekstraksi dengan campuran pelarut, misalnya heksan :diklormetan = 1 : 1, atau pelarut yang
diasamkan atau dibasakan, karena uapnya akan mempunyai komposisi yang berbeda dalam pelarut cair di dalam wadah. Perkolasi adalah cara penyarian dengan mengalirkan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi.Keuntungan metode ini adalah tidak memerlukan langkah tambahan yaitu sampel padat (marc) telah terpisah dari ekstrak. Kerugiannya adalah kontak antara sampel padat tidak merata atau terbatas dibandingkan dengan metode refluks, dan pelarut menjadi dingin selama proses perkolasi sehingga tidak melarutkan komponen secara efisien
Kamis, 12 Februari 2015
Proses Pembuatan Simplisia
A. Waktu Panen
Panen merupakan salah satu rangkaian
tahapan dalam proses budidaya tanaman obat. Waktu, cara pemanenan dan
penanganan bahan setelah panen merupakan periode kritis yang sangat menen-tukan
kualitas dan kuantitas hasil tanaman. Oleh karena itu waktu, cara panen dan
penanganan tanaman yang tepat dan benar merupakan faktor penentu kua-litas dan
kuantitas. Setiap jenis tanaman memiliki waktu dan cara panen yang berbeda.
Tanaman yang dipanen buahnya memiliki waktu dan cara panen yang berbeda dengan
tanaman yang dipanen berupa biji, rimpang, daun, kulit dan batang. Begitu juga
tanaman yang mengalami stres lingkungan akan memiliki waktu panen yang ber-beda
meskipun jenis tanamannya sama. Berikut ini diuraikan saat panen yang tepat
untuk beberapa jenis tanaman obat.
Biji. Panen tidak bisa dilakukan secara
serentak karena perbedaan waktu pematangan dari buah atau polong yang berbeda.
Pemanenan biji di-lakukan pada saat biji telah masak fisiologis. Fase ini
ditandai dengan sudah maksimalnya pertumbuhan buah atau polong dan biji yang di
dalamnya telah terbentuk dengan sempurna. Kulit buah atau polong mengalami perubahan
warna misalnya kulit polong yang semula warna hijau kini berubah menjadi agak
kekuningan dan mulai mengering. Pemanenan biji pada tanaman se-musim yang
sifatnya determinate dilakukan secara serentak pada suatu luasan tertentu.
Pemanenan dilaku-kan setelah 60% kulit polong atau kulit biji sudah mulai
mongering. Hal ini berbeda dengan tanaman se-musim indeterminate dan tahunan,
yang umumnya dipanen secara ber-kala berdasarkan pemasakan dari biji/polong.
Buah. Buah harus dipanen setelah masak
fisiologis dengan cara me-metik. Pemanenan sebelum masak fisiologis akan
menghasilkan buah dengan kualitas yang rendah dan kuantitasnya berkurang. Buah
yang dipanen pada saat masih muda, seperti buah mengkudu, jeruk nipis, jambu
biji dan buah ceplukan akan memiliki rasa yang tidak enak dan aromanya kurang
sedap. Begitu pula halnya dengan pemanenan yang terlambat akan menyebabkan
pe-nurunan kualitas karena akan terjadi perombakan bahan aktif yang ter-dapat
di dalamnya menjadi zat lain. Selain itu tekstur buah menjadi lembek dan buah
menjadi lebih cepat busuk.
Daun. Pemanenan daun dilakukan pada saat
tanaman telah tumbuh maksimal dan sudah memasuki periode matang fisiologis dan
dilakukan dengan memangkas tanaman. Pemangkasan dilakukan dengan menggunakan
pisau yang bersih atau gunting stek. Pemanenan yang terlalu cepat menyebabkan
hasil produksi yang diperoleh rendah dan kandungan bahan bahan aktifnya juga
rendah, seperti tanaman jati belanda dapat dipanen pada umur 1 - 1,5 tahun,
jambu biji pada umur 6 - 7 bulan, cincau 3 - 4 bulan dan lidah buaya pada umur
12 - 18 bulan setelah tanam. Demikian juga dengan pe-manenan yang terlambat
menyebab-kan daun mengalami penuaan (se-nescence) sehingga mutunya rendah
karena bahan aktifnya sudah ter-degradasi. Pada beberapa tanaman pemanenan yang
terlambat akan mempersulit proses panen.
Rimpang. Untuk jenis rimpang waktu
pe-manenan bervariasi tergantung peng-gunaan. Tetapi pada umumnya pemanenan
dilakukan pada saat tanam-an berumur 8 - 10 bulan. Seperti rimpang jahe, untuk
kebutuhan eks-por dalam bentuk segar jahe dipanen pada umur 8 - 9 bulan setelah
tanam, sedangkan untuk bibit 10 - 12 bulan. Selanjutnya untuk keperluan
pem-buatan jahe asinan, jahe awetan dan permen dipanen pada umur 4 - 6 bulan
karena pada umur tersebut serat dan pati belum terlalu tinggi. Sebagai bahan
obat, rimpang di-panen setelah tua yaitu umur 9 - 12 bulan setelah tanam. Untuk
temu-lawak pemanenan rimpang dilaku-kan setelah tanaman berumur 10 - 12 bulan.
Temulawak yang dipanen pada umur tersebut menghasilkan kadar minyak atsiri dan
kurkumin yang tinggi. Penanaman rimpang dilakukan pada saat awal musim hujan
dan dipanen pada pertengahan musim kemarau. Saat panen yang tepat ditandai
dengan mulai menge-ringnya bagian tanaman yang berada di atas permukaan tanah
(daun dan batang semu), misalnya kunyit, temulawak, jahe, dan kencur.
Bunga. Bunga digunakan dalam industri
farmasi dan kosmetik dalam bentuk segar maupun kering. Bunga yang digunakan
dalam bentuk segar, pemanenan dilakukan pada saat bunga kuncup atau setelah
per-tumbuhannya maksimal. Berbeda dengan bunga yang digunakan dalam bentuk
kering, pemanenan dilakukan pada saat bunga sedang mekar. Seperti bunga
piretrum, bunga yang dipanen dalam keadaan masih kuncup menghasilkan kadar
piretrin yang lebih tinggi dibandingkan dengan bunga yang sudah mekar
Kayu. Pemanenan kayu dilakukan setelah
pada kayu terbentuk senyawa metabolit sekunder secara maksimal. Umur panen
tanaman berbeda-beda tergantung jenis tanaman dan ke-cepatan pembentukan
metabolit sekundernya. Tanaman secang baru dapat dipanen setelah berumur 4
sampai 5 tahun, karena apabila dipanen terlalu muda kandungan zat aktifnya
seperti tanin dan sappan masih relatif sedikit.
Herba. Pada beberapa tanaman semusim,
waktu panen yang tepat adalah pada saat pertumbuhan vegetatif tanaman sudah
maksimal dan akan memasuki fase generatif atau dengan kata lain pemanenan
dilakukan sebelum ta-naman berbunga. Pemanenan yang dilakukan terlalu awal
mengakibat-kan produksi tanaman yang kita dapatkan rendah dan kandungan bahan
aktifnya juga rendah. Sedang-kan jika pemanenan terlambat akan menghasilkan
mutu rendah karena jumlah daun berkurang, dan batang tanaman sudah berkayu.
Contohnya tanaman sambiloto sebaiknya di-panen pada umur 3 - 4 bulan, pegagan
pada umur 2 - 3 bulan setelah tanam, meniran pada umur kurang lebih 3,5 bulan
atau sebelum berbunga dan tanaman ceplukan dipanen setelah umur 1 - 1,5 bulan
atau segera setelah timbul kuncup bunga, terbentuk.
B. Cara Panen Bahan Baku Simplisia
Pada waktu panen peralatan dan
tempat yang digunakan harus bersih dan bebas dari cemaran dan dalam keadaan
kering. Alat yang diguna-kan dipilih dengan tepat untuk mengurangi terbawanya
bahan atau tanah yang tidak diperlukan. Seperti rimpang, alat untuk panen dapat
menggunakan garpu atau cangkul. Bahan yang rusak atau busuk harus segera
dibuang atau dipisahkan. Penempatan dalam wadah (keran-jang, kantong, karung
dan lain-lain) tidak boleh terlalu penuh sehingga bahan tidak menumpuk dan
tidak rusak. Selanjutnya dalam waktu pengangkutan diusahakan supaya bahan tidak
terkena panas yang berlebihan, karena dapat menyebab-kan terjadinya proses
fermentasi/ busuk. Bahan juga harus dijaga dari gang-guan hama (hama gudang,
tikus dan binatang peliharaan).
C. Penanganan Pasca Panen
Pasca panen merupakan kelanjutan dari proses panen
terhadap tanaman budidaya atau hasil dari penambangan alam yang fungsinya
antara lain untuk membuat bahan hasil panen tidak mudah rusak dan memiliki kualitas
yang baik serta mudah disimpan untuk diproses selanjutnya. Untuk memulai proses
pasca panen perlu diperhatikan cara dan tenggang waktu pengumpulan bahan
tanaman yang ideal setelah dilakukan proses panen tanaman tersebut. Selama
proses pasca panen sangat penting diperhatikan keber-sihan dari alat-alat dan
bahan yang digunakan, juga bagi pelaksananya perlu memperhatikan perlengkapan
seperti masker dan sarung tangan. Tujuan dari pasca panen ini untuk
menghasilkan simplisia tanaman obat yang bermutu, efek terapinya tinggi
sehingga memiliki nilai jual yang tinggi. Secara umum faktor-faktor dalam
penanganan pasca panen yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
- Penyortiran (Sortir Basah)
Penyortiran basah dilakukan setelah
selesai panen dengan tujuan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan
asing, bahan yang tua dengan yang muda atau bahan yang ukurannya lebih besar
atau lebih kecil. Bahan nabati yang baik memiliki kandungan campuran bahan
organik asing tidak lebih dari 2%. Proses penyortiran pertama bertujuan untuk
memisahkan bahan yang busuk atau bahan yang muda dan yang tua serta untuk
mengurangi jumlah pengotor yang ikut terbawa dalam bahan.
- Pencucian
Pencucian bertujuan menghilang-kan
kotoran-kotoran dan mengurangi mikroba-mikroba yang melekat pada bahan.
Pencucian harus segera di-lakukan setelah panen karena dapat mempengaruhi mutu
bahan. Pen-cucian menggunakan air bersih seperti air dari mata air, sumur atau
PAM. Penggunaan air kotor menye-babkan jumlah mikroba pada bahan tidak akan berkurang
bahkan akan bertambah. Pada saat pencucian per-hatikan air cucian dan air
bilasan-nya, jika masih terlihat kotor ulangi pencucian/pembilasan sekali atau
dua kali lagi. Perlu diperhatikan bahwa pencucian harus dilakukan dalam waktu
yang sesingkat mung-kin untuk menghindari larut dan terbuangnya zat yang
terkandung dalam bahan. Pencucian bahan dapat dilakukan dengan beberapa cara
antara lain :
- Perendaman bertingkat
Perendamana biasanya dilakukan pada bahan yang tidak
banyak mengandung kotoran seperti daun, bunga, buah dll. Proses perendaman
dilakukan beberapa kali pada wadah dan air yang berbeda, pada rendaman pertama
air cuciannya mengandung kotoran paling banyak. Saat perendaman kotoran-kotoran
yang melekat kuat pada bahan dapat dihilangkan langsung dengan tangan. Metoda
ini akan menghemat peng-gunaan air, namun sangat mudah melarutkan zat-zat yang
terkandung dalam bahan.
- Penyemprotan
Penyemprotan biasanya dilakukan pada bahan yang
kotorannya banyak melekat pada bahan seperti rimpang, akar, umbi dan lain-lain.
Proses penyemprotan dilakukan de-ngan menggunakan air yang ber-tekanan tinggi.
Untuk lebih me-nyakinkan kebersihan bahan, ko-toran yang melekat kuat pada
bahan dapat dihilangkan langsung dengan tangan. Proses ini biasanya
meng-gunakan air yang cukup banyak, namun dapat mengurangi resiko
hilang/larutnya kandungan dalam bahan.
- Penyikatan (manual maupun otomatis)
Pencucian dengan menyikat dapat dilakukan terhadap
jenis bahan yang keras/tidak lunak dan kotoran-nya melekat sangat kuat.
Pencucian ini memakai alat bantu sikat yang di- gunakan bentuknya bisa
bermacam-macam, dalam hal ini perlu diper-hatikan kebersihan dari sikat yang
digunakan. Penyikatan dilakukan terhadap bahan secara perlahan dan teratur agar
tidak merusak bahannya. Pem-bilasan dilakukan pada bahan yang sudah disikat.
Metode pencuci-an ini dapat menghasilkan bahan yang lebih bersih dibandingkan
de-ngan metode pencucian lainnya, namun meningkatkan resiko kerusa-kan bahan,
sehingga merangsang tumbuhnya bakteri atau mikroorganisme.
- Penirisan / Pengeringan
Setelah pencucian, bahan lang-sung
ditiriskan di rak-rak pengering. Khusus untuk bahan rimpang pen-jemuran
dilakukan selama 4 - 6 hari. Selesai pengeringan dilakukan kem-bali penyortiran
apabila bahan lang-sung digunakan dalam bentuk segar sesuai dengan permintaan.
- Perajangan
Perajangan pada bahan dilakukan
untuk mempermudah proses selanjutnya seperti pengeringan, pengemasan,
penyulingan minyak atsiri dan penyimpanan. Perajangan biasanya hanya dilakukan
pada bahan yang ukurannya agak besar dan tidak lunak seperti akar, rim-pang,
batang, buah dan lain-lain. Ukuran perajangan tergantung dari bahan yang
digunakan dan ber-pengaruh terhadap kualitas simplisia yang dihasilkan.
Perajangan terlalu tipis dapat mengurangi zat aktif yang terkandung dalam
bahan. Sedangkan jika terlalu tebal, maka pengurangan kadar air dalam bahan
agak sulit dan memerlukan waktu yang lama dalam penjemuran dan kemungkinan
besar bahan mudah ditumbuhi oleh jamur.
- Pengeringann
Pengeringan adalah suatu cara
pengawetan atau pengolahan pada bahan dengan cara mengurangi kadar air,
sehingga proses pem-busukan dapat terhambat. Dengan demikian dapat dihasilkan
simplisia terstandar, tidak mudah rusak dan tahan disimpan dalam waktu yang
lama Dalam proses ini, kadar air dan reaksi-reaksi zat aktif dalam bahan akan
berkurang, sehingga suhu dan waktu pengeringan perlu diperhati-kan. Suhu
pengeringan tergantung pada jenis bahan yang dikeringkan. Pada umumnya suhu
pengeringan adalah antara 40 - 600C dan hasil yang baik dari proses pengeringan
adalah simplisia yang mengandung kadar air 10%. Demikian pula de-ngan waktu
pengeringan juga ber-variasi, tergantung pada jenis bahan yang dikeringkan
seperti rimpang, daun, kayu ataupun bunga. Hal lain yang perlu diperhatikan
dalam pro-ses pengeringan adalah kebersihan (khususnya pengeringan mengguna-kan
sinar matahari), kelembaban udara, aliran udara dan tebal bahan (tidak saling
menumpuk). Penge-ringan bahan dapat dilakukan secara tradisional dengan
menggunakan sinar matahari ataupun secara mo-dern dengan menggunakan alat
pe-ngering seperti oven, rak pengering, blower ataupun dengan fresh dryer.
Pengeringan hasil rajangan dari
temu-temuan dapat dilakukan de-ngan menggunakan sinar matahari, oven, blower
dan fresh dryer pada suhu 30 - 500C. Pengeringan pada suhu terlalu tinggi dapat
merusak komponen aktif, sehingga mutunya dapat menurun. Untuk irisan rim-pang
jahe dapat dikeringkan meng-gunakan alat pengering energi surya, dimana suhu
pengering dalam ruang pengering berkisar antara 36 - 450C dengan tingkat
kelembaban 32,8 - 53,3% menghasilkan kadar minyak atsiri lebih tinggi
dibandingkan dengan pengeringan matahari lang-sung maupun oven. Untuk irisan
temulawak yang dikeringkan dengan sinar matahari langsung, sebelum dikeringkan
terlebih dulu irisan rimpang direndam dalam larutan asam sitrat 3% selama 3
jam. Selesai peren-aman irisan dicuci kembali sampai bersih, ditiriskan
kemudian dijemur dipanas matahari. Tujuan dari perendaman adalah
untuk mencegah terjadinya degradasi kur-kuminoid pada simplisia pada saat
penjemuran juga mencegah peng-uapan minyak atsiri yang berlebihan. Dari hasil
analisis diperoleh kadar minyak atsirinya 13,18% dan kurkumin1,89%.
Di samping menggunakan sinar
matahari langsung, penjemuran juga dapat dilakukan dengan menggunakan blower
pada suhu 40 - 500C. Kelebihan dari alat ini adalah waktu penjemuran lebih
singkat yaitu sekitar 8 jam, di-bandingkan dengan sinar matahari membutuhkan
waktu lebih dari 1 minggu. Pelain kedua jenis pengeri-ng tersebut juga terdapat
alat pengering fresh dryer, dimana suhunya hampir sama dengan suhu ruang,
tempat tertutup dan lebih higienis. Kelemahan dari alat ter-sebut waktu
pengeringan selama 3 hari. Untuk daun atau herba, penge-ringan dapat dilakukan
dengan me-nggunakan sinar matahari di dalam tampah yang ditutup dengan kain
hitam, menggunakan alat pengering fresh dryer atau cukup dikering-anginkan
saja.
Pengeringan dapat menyebabkan
perubahan-perubahan hidrolisa enzi-matis, pencokelatan, fermentasi dan
oksidasi. Ciri-ciri waktu pengering-an sudah berakhir apabila daun atau-pun
temu-temuan sudah dapat di-patahkan dengan mudah. Pada umumnya bahan
(simplisia) yang sudah kering memiliki kadar air ± 8 - 10%. Dengan jumlah kadar
air tersebut kerusakan bahan dapat ditekan baik dalam pengolahan mau-pun waktu
penyimpanan.
- Penyortiran (Sortir Kering).
Penyortiran dilakukan bertujuan
untuk memisahkan benda-benda asing yang terdapat pada simplisia, misalnya
akar-akar, pasir, kotoran unggas atau benda asing lainnya. Proses penyortiran
merupakan tahap akhir dari pembuatan simplisia kering sebelum dilakukan
pengemasan, penyimpanan atau pengolahan lebih lanjut. Setelah penyortiran
simplisia ditimbang untuk mengetahui rendemen hasil dari proses pasca panen
yang dilakukan.
- Pengemasan
Pengemasan dapat dilakukan terhadap
simplisia yang sudah di-keringkan. Jenis kemasan yang di-gunakan dapat berupa
plastik, kertas maupun karung goni. Persyaratan jenis kemasan yaitu dapat
menjamin mutu produk yang dikemas, mudah dipakai, tidak mempersulit
pena-nganan, dapat melindungi isi pada waktu pengangkutan, tidak beracun dan
tidak bereaksi dengan isi dan kalau boleh mempunyai bentuk dan rupa yang
menarik.
Berikan label yang jelas pada tiap kemasan tersebut yang isinya menuliskan ; nama bahan, bagian dari tanaman bahan yang digunakan, tanggal pengemasan, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih, metode penyimpanan.
Berikan label yang jelas pada tiap kemasan tersebut yang isinya menuliskan ; nama bahan, bagian dari tanaman bahan yang digunakan, tanggal pengemasan, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih, metode penyimpanan.
- Penyimpanan
Rabu, 11 Februari 2015
Pengelolahan Simplisia
L. Pengolahan Simplisia
1. Pengeringan
Hasil panen tanaman obat untuk dibuat simplisia umumnya perlu segera dikeringkan. Tujuan pengeringan adalah untuk mengurangi kadar air, untuk menjamin dalam penyimpanan, mencegah pertumbuhan jamur, serta mencegah terjadinya proses atau reaksi enzimatika yang dapat menurunkan mutu.
Dalam pengeringan faktor yang penting adalah suhu, kelembaban dan aliran udara ( ventilasi ). Sumber suhu dapat berasal dari matahari atau dapat pula dari suhu buatan.
Umumnya pengeringan bagian
tanaman yang mengandung minyak atsiri atau komponen lain yang
termolabil, hendaknya dilakukan pada suhu tidak terlalu tinggi dengan
aliran udara berlengas rendah secara teratur. Untuk simplisia yang
mengandung alkaloida, umumnya dikeringkan pada suhu kurang dari 70 0 C.
Agar
dalam pengeringan tidak terjadi proses pembusukan , hendaknya simplisia
jangan tertumpuk terlalu tebal. Sehingga proses penguapan berlangsung
dengan cepat. Sering suhu yang
tidak terlalu tinggi dapat menyebabkan warna simplisia menjadi lebih
menarik. Misalnya pada pengeringanTemulawak suhu awal pengeringan dengan
panas buatan antara 50 0– 55 0 C.
2. Pengawetan
Simplisia nabati atau simplisia hewani harus dihindarkan dari serangga atau cemaran atau mikroba dengan penambahan kloroform, CCl4, eter atau pemberian bahan atau penggunaan cara yang sesuai, sehingga tidak meninggalkan sisa yang membahayakan kesehatan.
3. Wadah
Wadah
adalah tempat penyimpanan artikel dan dapat berhubungan langsung atau
tidak langsung dengan artikel. Wadah langsung (wadah primer) adalah
wadah yang langsung berhubungan dengan artikel sepanjang waktu.
Sedangkan wadah yang tidak bersentuhan langsung dengan artikel disebut
wadah sekunder.
Wadah
dan sumbatnya tidak boleh mempengaruhi bahan yang disimpan didalamnya
baik secara fisika maupun kimia, yang dapat mengakibatkan perubahan
kekuatan, mutu atau kemurniannya hingga tidak memenuhi persyaratan
resmi.
Wadah tertutup baik
: harus melindungi isi terhadap masuknya bahan padat dan mencegah
kehilangan bahan selama penanganan, pengangkutan, penyimpanan dan
distribusi.
4. Suhu penyimpanan
Dingin : adalah suhu tidak lebih dari 80C, Lemari pendingin mempunyai suhu antara
20C– 80C, sedangkan lemari pembeku mempunyai suhu antara -200C dan -100C.
Sejuk : adalah suhu antara 80C dan 150C. Kecuali dinyatakan lain, bahan yang harus di simpan pada suhu sejuk dapat disimpan pada lemari pendingin.
Suhu kamar : adalah suhu pada ruang kerja. Suhu kamar terkendali adalah suhu yang di atur antara 150 dan 300.
Hangat : hangat adalah suhu antara 300 dan 400 .
Panas berlebih : panas berlebih adalah suhu di atas 400.
5. Tanda dan Penyimpanan
Semua
simplisia yang termasuk daftar narkotika, diberi tanda palang medali
berwarna merah di atas putih dan harus disimpan dalam lemari terkunci.
Semua simplisia yang termasuk daftar obat keras kecuali yang termasuk
daftar narkotika, diberi tanda tengkorak dan harus disimpan dalam lemari
terkunci.
6. Kemurnian Simplisia
Persyaratan simplisia nabati dan simplisia hewani diberlakukan pada simplisia yang diperdagangkan, tetapi pada simplisia yang digunakan untuk suatu pembuatan atau isolasi minyak atsiri, alkaloida, glikosida, atau zat aktif lain, tidak harus memenuhi persyaratan tersebut.
Persyaratan yang
membedakan strukrur mikroskopik serbuk yang berasal dari simplisia
nabati atau simplisia hewani dapat tercakup dalam masing – masing
monografi, sebagai petunjuk identitas, mutu atau kemurniannya.
7. Benda asing
Simplisia nabati dan simplisia hewani tidak boleh mengandung
organisme patogen, dan harus bebas dari cemaran mikro organisme ,
serangga dan binatang lain maupun kotoran hewan . Simplisia tidak boleh
menyimpang bau dan warna, tidak boleh mengandung lendir , atau
menunjukan adanya kerusakan. Sebelum diserbukkan simplisia nabati harus
dibebaskan dari pasir, debu, atau pengotoran lain yang berasal dari
tanah maupun benda anorganik asing.
Dalam
perdagangan , jarang dijumpai simplisia nabati tanpa terikut atau
tercampur bagian lain , maupun bagian asing, yang biasanya tidak
mempengaruhi simplisianya sendiri. Simplisia tidak boleh mengandung bahan asing atau sisa yang beracun atau membahayakan kesehatan. Bahan asing termasuk bagian lain tanaman yang tidak dinyatakan dalam paparan monografi.
Pemalsuan Dan Penurunan Mutu Simplisia
Pemalsuan umumnya dilakukan secara sengaja, sedangkan penurunan mutu mungkin dilakukan secara tidak sengaja.
Simplisia dianggap bermutu rendah jika tidak memenuhi persyaratan - persyaratan yang telah ditetapkan, khususnya
persyaratan kadarnya. Mutu rendah ini dapat disebabkan oleh tanaman
asal, cara panen dan pengeringan yang salah, disimpan terlalu lama, kena
pengaruh kelembaban, panas atau penyulingan.
Simplisia dianggap rusak
jika oleh sebab tertentu, keadaannya tidak lagi memenuhi syarat,
misalnya menjadi basah oleh air laut, tercampur minyak pelumas waktu
diangkut dengan kapal dan lain sebagainya.
Simplisia dinyatakan bulukan jika kwalitasnya turun karena dirusak oleh bakteri, cendawan atau serangga.
Simplisia dinyatakan tercampur jika secara tidak sengaja terdapat bersama-sama bahan-bahan atau bagian tanaman lain, misalnya kuncup Cengkeh tercampur dengan tangkai Cengkeh, daun Sena tercampur dengan tangkai daun.
Simplisia dianggap dipalsukan
jika secara sengaja diganti, diolah atau ditambahi bahan lain yang
tidak semestinya. Misalnya minyak zaitun diganti minyak biji kapas, tetapi tetap dijual dengan nama minyak Zaitun. Tepung jahe yang ditambahi pati terigu agar bobotnya bertambah, ditambah serbuk cabe agar tetap ada rasa pedasnya, ditambah serbuk temulawak agar warnanya tampak seperti keadaan semula.
N. Pemerian
Adalah uraian tentang bentuk, bau, rasa, warna simplisia, jadi merupakan
informasi yang diperlukan pada pengamatan terhadap simplisia nabati
yang berupa bagian tanaman ( kulit, daun, akar dan sebagainya ).
O. Isi Simplisia
Isi simplisia dibagi dalam dua kelompok, yaitu isi utama dan isi tambahan. Keterangan tentang isi kadang-kadang malah merupakan kunci dalam sediaan-sediaan galenik.
P. Pembuatan Serbuk Simplisia
§ Bersihkan simplisia dari bahan organik asing dan pengotoran lain secara mekanik atau dengan cara lain yang cocok, keringkan
pada suhu yang cocok, haluskan , ayak.Kecuali dinyatakan lain, seluruh
simplisia harus dihaluskan sesuai derajat halus yang ditetapkan..
§ Simplisia yang mengandung zat berkhasiat yang tidak tahan panas, dikeringkan pada suhu serendah mungkin, jika perlu dengan pengurangan tekanan udara.
§ Pada
pembuatan serbuk simplisia yang mempunyai persyaratan potensi dan kadar
zat tertentu, misalnya serbuk Digitalis dan serbuk Opium , boleh
ditambahkan serbuk sejenis yang mempunyai potensi atau kadar lebih
rendah atau lebih tinggi, atau ditambah bahan lain yang cocok, misalnya
Laktosa, Pati beras, hingga hasil pengolahan terakhir memenuhi
persyaratan.
Sabtu, 07 Februari 2015
SEJARAH FARMAKOGNOSI
Sejarah Singkat Farmakognosi
![]() |
| Ilustrasi Simplisia (Foto : id.wikipidia.org) |
Sesuai
tema maka tulisan ini saya dedikasikan untuk saudara saya yang sangat displin
dalam menuntut ilmu di Sekolah Menengah Farmasi Nasional Surakarta, yang
bernama Dwi Novia. Tidak dipungkiri bahwa buku-bukunya yang setumpuk itu
“diwariskan” kepada saya, bukan buku novel yang menarik ataupun buku diktat
tebal, melainkan buku yang setiap judulnya bertuliskan Farmakognosi, dari Jilid
1 s.d jilid banyak.
Farmakognosi
asal kata Pharmakon berarti obat dan gnosis berarti ilmu
pengetahuan. Farmakognosi adalah pengetahuan mengenai obat. Definisi obat yakni
bahan atau paduan bahan-bahan diarahkan untuk penyembuhan penyakit, itu
definisi secara singkatnya. Istilah obat itu banyak dan bermacam-macam, ada
obat jadi, obat paten, obat baru dan obat tradisional.
Sejarah
awal mulanya ilmu Farmakognosi dilaporkan pertama kali di Assiria pada 2500
sebelum masehi. Penggunaan tanaman obat sudah dikembangkan hal itu dibuktikan
dari lempeng tanah liat yang memuat bahan kulit delima, opium, madu,
minyak-minyak yang tersimpan baik di Perpustakaan Ashurbanipal di Assiria. Di jaman Yunani kuno, Hippocrates taun 1446
sebelum masehi telah dikenal kayu manis, gentiana, gom arab dan lain-lain.
Seorang
ahli botani terkenal dari Swedia, Linnaeus di tahun 1737 menulis buku paling
bermanfaat sejagad didunia tumbuhan “Genera Plantarum” yang pada akhirnya
digunakan sebagai buku pedoman utama dari sistematika botani dan dirasakan
manfaat ilmunya sampai sekarang terutama oleh mahasiswa Biologi dan Ilmu
Pertanian.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)
.jpg)